CERSIL DEWASA PDF

Share Arus air terjun itu sangat deras sekali, maka dari itu dengan sendirinya tubuh Han Li terbawa hanyut. Han Li berpikir bahwa dirinya akan binasa terbentur-bentur dengan batu gunung yang banyak terdapat disitu, kalau sampai dirinya terdorong oleh arus air terjun yang tumpah dengan derasnya. Pemuda itu memejamkan mata sambil menantikan kematiannya, dengan hati yang kebat-kebit. Meskipun sesuatu yang dapat diramalkan manusia bakal terjadi, namun bila Thian berkehendak lain, tak ada makhluk apapun didunia ini yang mampu mencegahnya, begitu pula dengan Han Li, memang dia belum ditakdirkan untuk mati. Sehingga kejadian yang dianggap mustahilpun bisa terjadi.

Author:Yotilar Kem
Country:Thailand
Language:English (Spanish)
Genre:Politics
Published (Last):10 March 2008
Pages:82
PDF File Size:2.29 Mb
ePub File Size:20.26 Mb
ISBN:722-2-21302-112-5
Downloads:67920
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Zolor



Eps Dengan sekuat tenaga dia bertahan. Jaring Langit Jala Bumi adalah jurus untuk pertahanan. Namun yang dihadapi Kiran kali ini adalah dua tokoh besar di dunia persilatan. Pengalaman mereka jauh dibanding Kiran. Perbedaannya ibarat Gunung Batur dan Gunung Semeru. Kiran yang masih tergolong anak kemarin sore di kancah persilatan Jawadwipa kalah segalanya. Dalam sebuah kesempatan, tendangan Durgandini mampu menembus celah, dan mengena di perut.

Kiran berteriak kesakitan. Terlempar tiga tombak dan bergulingan di tanah. Masih dengan suaranya yang bening. Dengan senyum manis. Bersama Rakyan Wanengpati, Durgandini mendekati Kiran yang terbaring di tanah. Kiran merasa perutnya bergejolak. Organ tubuhnya terguncang.

Tendangan Durgandini bukan tendangan biasa. Namun dia tak mempedulikan rasa sakit. Entah bagaimana namun pemuda itu ternyata memenangkan pertarungan. Dhanapati hidup!! Kemenangan Dhanapati membangkitkan semangat Kiran.

Dia bergegas bangkit. Selendang dan kipas digenggam erat. Perlahan dia memutar selendang membentuk gulungan. Kipas juga digerakkan memutar.

Suara yang dingin menusuk yang datang dari balik pepohonan. Kiran menoleh. Yang berbicara adalah perempuan cantik berusia pertengahan 20 tahun. Wajahnya cantik, namun dingin, membayangkan kepahitan hidup. Dia mengenakan pakaian mewah berwarna putih. Siapa yang berani mati mengacau di tempatku? Ada sesuatu yang mengerikan pada perempuan cantik itu, yang membuat Durgandini dan Wanengpati merinding. Dia tak akan kemana-mana. Mereka tentu saja tahu kalau pondok ini milik Putri Harum Hutan.

Mereka juga tahu kalau perempuan cantik ini adalah pendekar dari Swarnadwipa yang masih kerabat Raja Wilwatikta. Yang membuat Durgandini dan Rakyan Wanengpati terkejut adalah kehadiran sang putri. Bukankah ada banyak jagoan yang ditugaskan menghalangi kedatangannya? Kini ucapannya tegas. Lenyap sudah keramahan dan senyumnya yang manis. Dia memasang kuda-kuda. Jari telunjuk dan jari tengah disatukan.

Tangan kanan direntangkan sejajar bahu, lengan kiri ditekuk dengan kedua jari tepat di depan mulut. Rakyan Wanegpati juga bersiaga.

Seluruh tubuhnya bergetar. Putri Harum Hutan mengangguk. Ilmu beladiri ketiga pembantunya sudah tergolong tinggi. Mereka seharusnya bisa mengimbangi lelaki itu. Heh… Heh… Mimpi apa aku semalam.

Di pagi buta ini aku disuguhi tiga gadis cantik. Sama seperti sebelumnya, serangannya diarahkan ke bagian paling menarik dari perempuan: Dada. Dara Merah yang diserang tentu saja menghindar. Namun dia terkejut karena gerakan lawan begitu cepat. Karena tak bisa menghindar terpaksa dia menangkis. Mengepung dan menghantam. Dan dalam sekejap, Rakyan Wanengpati terdesak hebat. Ketiga dara semakin bersemangat. Lelaki ini harus dirubuhkan secepatnya supaya mereka bisa membantu Putri Harum Hutan yang kini terlibat pertarungan sengit dengan Durgandini.

Sebuah hantaman dari Dara Hijau membuat Wanengpati terhuyung. Ketiga gadis ini lalu merangsek. Mereka terbatuk dan segera melompat mundur. Serbuk itu berbau harum. Sangat harum dan sejenak membuat mereka pusing. Sepenanak nasi lagi kalian bertiga akan menjadi milikku. Jurus ketiga!! Nyaris bersamaan kedua lengan melakukan gerakan memutar. Energi aneh terpancar. Rerumputan yang masih basah oleh embun pagi tercabut hingga akar.

Begitu juga semak yang ada di sekeliling. Rerumputan dan semak seperti digerakkan oleh tangan raksasa dan bergerak dengan kecepatan luar biasa ke arah Rakyan Wanengpati. Rakyan Wanegpati dapat melihat dahsyatnya serangan.

Dia melompat tinggi dan berjumpalitan empat kali. Namun angin serangan terus menghujam, seperti naga raksasa yang marah. Karena tak bisa lagi menghindar, terpaksa dia menangkis.

Rakyan Wanengpati terdorong mundur hingga tujuh tombak, tersandar di sebuah pohon. Dia menatap ketiga lawannya dengan sorot mata ngeri. Sama sekali tak disangkanya kalau tenaga sakti ketiga gadis muda itu begitu tinggi!! Aku pergi!! Melihat tak mungkin bisa menculik Kiran, dia memutuskan untuk kabur!! Durgandini yang bertarung sengit dengan Putri Harum Hutan kaget melihat rekannya melarikan diri. Rakyan Wanengpati bukan jagoan sembarangan. Di dunia persilatan dia dikenal dengan julukan Dewa Pemetik Bunga.

Bagaimana mungkin dia bisa dikalahkan tiga gadis muda dengan begitu mudah? Setelah ditinggal rekannya, semangat bertarung Durgandini berkurang jauh. Dia segera melompat mundur dan berkelebat di tengah hutan. Tiga Dara mengangguk. Dengan sopan mereka mengajak Kiran dan Dhanapati.

Mereka memasuki pondok, dan terus hingga ke belakang. Bagian belakang pondok ditutupi semak dan rumpun bambu. Seingatnya Putri Harum Hutan memerintahkan agar ketiga dara ini menyajikan Kopi. Kenapa justru dibawa ke belakang pondok? Artinya kami harus membawa saudara berdua ke tempat yang lebih aman.

Ketiganya kini berjalan melewati anak sungai dan tiba di air terjun yang bergemuruh. Mereka melewati sisi air terjun. Dan Kiran terkagum-kagum karena di balik air terjun ternyata ada sebuah gua. Gua mungil, setinggi pinggang orang dewasa. Kiran mengikuti. Juga Dhanapati, yang menyeret pedang. Dara Biru dan dara Merah mengawasi sekeliling dan ikut masuk. Gua itu terasa lembab.

Dan pengap.

E MAXX 3906 PDF

Pendekar Matahari/Sebuah Telaga Di Dasar Jurang

Eps Dengan sekuat tenaga dia bertahan. Jaring Langit Jala Bumi adalah jurus untuk pertahanan. Namun yang dihadapi Kiran kali ini adalah dua tokoh besar di dunia persilatan. Pengalaman mereka jauh dibanding Kiran.

CALCULO VECTORIAL MARSDEN TROMBA PDF

Tabib Gila

Apa kau tidak pernah memikirkan tentang ayahmu yang pergi tanpa juntrungan? Sudah sepuluh tahun lamanya tiada kabar berita. Mati atau masih hidup? Aih, kalau kau ini anak laki-laki, tentunya sudah lama aku suruh kau mencari jejak ayahmu itu. Tapi kau hanya seorang anak perempuan, meskipun kau telah mendapatkan pelajaran ilmu silat, tapi seorang anak perempuan mau sampai dimana kekuatannya bila menghadapi orang-orang jahat. Lagi pula aku tokh bukan gadis pingitan yang hanya mengeram dalam rumah gedung, sejak kecil aku mendapat pelajaran ilmu silat, dan aku sendiri sering berlari-larian di atas gunung. Hingga gunung dan hutan bukan lagi merupakan apa-apa bagiku, maka meskipun aku mengembara ke pelosok dunia juga tidak nanti takut pada orang.

Related Articles